Kamis, 30 Oktober 2014

Semburat Cinta



Semburat Cinta
Dalam Sinar Bintang Senja
            --Braaakkk!!!!---
Bunyi yang mngejutkan dari sudut jalam Melati senja itu. Tak seorangpun disana. Sepi, hening. Hanya ada 2 orang yang saling bertatapan namun dengan keadaan kendaraan yang tak begitu baik.
“aduuuuch…….” Rintih si gadis berjilbab biru itu.
“ech ayo tak bantu berdiri mbak..” tawaran seorang lelaki berpeci putih yang sedari tadi menatapnya tak henti.
“nggak usah, bukan muhrim. Ech kalau naik motor nggak usah telfonan mas, jadi nggak hati-hati kan, gini motorku yang jadi korbannya..” celoteh gadis imut itu dengan nada apa adanya yang ia rasakan.
“iya dech maaf. Ada yang luka nggak,?” tanya lelaki itu.
“nggak”
“bener nich,?”
“hm.. tapi  motorku nich lecet!!”
“mau dibawa ke bengkel apa gimana,?”
“ech nggak usah, nggak papa mas. Bantu hidupin aja mas.” Ternyata motornya ngambek setelah jatuh (hohoo)
“nich sudah mbak” dengan memberikan motor si gadis itu dengan tanpa berkedip pun (hahaaa terpesona mungkin)
“ya sudah, Aku duluan mas. Hati-hati kalau naik motor, jangan diulangi lagi!!” pesannya dan seketika itu langsung meninggalkan sudut jalan Melati itu.
            Pertemuan itu mereka akhiri dengan senyuman diantara keduanya. Tapi, sepertinya kedua insan itu saling bertukar rasa. Ya, rasa, entah rasa apa itu. Gadis berjilbab biru itu sudah meninggalkan tempat itu, namun lelaki berpeci putih itu belum juga meninggalkan lokasi itu. Lelaki itu tampak memperhatikan gadis tadi dan nampaknya pun ingin mengenalinya.
            Di tengah jalan dalam fikiran gadis imut itu bertanya “siapa lelaki berpeci putih tadi ya,?” tegas fikirannya.
            Naza, si gadis imut dengan nama lengkap Naza Azkiya Ulfina. Siswi di Madrasah Aliyah Al-‘Uluwiyyah. Seorang gadis yang sangat menekuni beberapa organisasi serta kegiatan-kegiatan di Madrasahnya. Ia juga mengambil jurusa IPA. Ia pun termasuk siswi aktif di kelasnya. Tak heran kalau ia dikenal dekat teman-temannya. Cerewet pula. Namun ia tak mau dibilang lebay karena menurutnya ia apa adanya.
***

            Setelah meninggalkan tempat kecelakaan ringan tadi Naza menuju rumah Chusna, kawan dekatnya. Karena sebelumnya mereka sudah punya rencana bahwa sore ini akan ke toko buku.
“assalamu’alaikum,” ucap Naza sambil mengetuk pintu rumah Chusna.
“wa’alaikumsalam, ya sebentar” jawaban dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintupun terbuka.
“Hech, lama bener, padahal udah sms dari tadi ngomongnya OTW tapi nggak sampai-sampai. Ya sudah tak tinggal masuk lagii kan”,
“hiiich kamu si nggak tau. Akau tadi kena musibah ringan kok”
“haaaa??? Musibah ringan???? Kenapa nho??”
“tadi di pojok jalan Melati sana aku ditabrak orang. Untung nggak kenapa kenapa,”
“oalach..  ya sudah yang penting nggak ada yang luka tha?? Langsung ke toko buku aja yuk,”
“ayo lach”
            Perjalanan 10 menit. Di tengah perjalanan mereka saling bercerita, entah apa yang mereka obrolkan tapi nampaknya serius. Obrolan mereka terhenti barengan dengan sampainya mereka di depan toko buku. Mereka langsung masuk dan Chusna pun menuju kea rah buku-buku sastra serta novel-novel, sedangkan Naza menuju pada setumpukan buku sastra lama. Disaat seriusnya ia memilih buku-buku itu. Tiba-tiba………
“hech mbak”
“astaghfirullah… hiiich ngagetin wae sampeyan”
uuuUUuuuu….. ternyata lelaki berpeci putih itu lagi.
“disini juga mbak,?”
“ya,” jawaban singkat dari Naza.
“umb tadi buru-buru itu mau ke toko buku tha,”
“ya, bisa jadi” –ach kepo banget ya-  (batin Naza)
“oh ya, maaf buat yang tadi.”
“sudah tak maafin mas.”
“rumahmu mana tha mbak??”
“deket Madrasah Al-Imaan, timur Masjid At-Taqwa”
“lho,? Daerah situ?? Kok nggak pernah liat ya??” nampaknya kepo, tapi padahal lelaki itu sering melihat Naza di daerah situ.
Belum di jawab Naza, tapi Chusna keburu datang. Haduuh terpotong dech obrolannya. (huhuuu kasihaan)
“ya sudah, duluan ya mas,” Naza menutup obrolan mereka dan langsung menarik tangan Chusna ke kasir dan langsung pulang.
“Ech Za, cowok tadi siapa?? Kok nggak pernah cerita kalau punya temen ganteng?” celetuk Chusna saat mereka tengah memandangi sinar senja yang indah di ufuk barat.
“hech, bukan temen. Lha wong baru kenal kok. Manis juga kan? Hahaa”
“ciiyeeeeeeee pandangan pertama nich.”
“bisa jadi. Kayaknya santri dech Na,”
“hahaaa kenalan dimana nho,?”
“di toko buku tadi. Heheee”
“lho? Beneran? Kok kelihatannya sudah akrab gitu?”
“hech di itu yang nabrak aku,”
“oalach cinta pandangan pertama di sudut jalan Melati pada senja ini,”
“iiiiiich apaan si. Sudah lach pulang yuk. Besok-besok lagi ya”
“its OK. Hati-hati di jalan ya”
            Bergegas Naza mengajak kedua kakinya meninggalkan tempat indah itu.
            Chusna, teman dekat Naza sejak SD dulu. Yang punya nama lengkap Chusna Zakiya. Siswi di SMA 3 AL Hikmah. Ia bertempat tinggal tak jauh dari tempat tinggal Naza. Chusna pun juga punya LDR lho, alias Long Distance Relationship. Lama Chusna dekat dengan cowok yang punya nama asli Ilham Mubarok. Namun, hari-hari ini hubungan mereka tak begitu baik. Menurut Naza, ada orang ketiga di balik kisah hatinya.
***
            Rembulan semakin terang, hatinya benderang, rasanya tak terbilang, berpijar-pijar lebih dari kunang-kunang, tiada kelam yang terulang karena kini hati telah gembira riang.
            Malam ini Naza tampak gembira, bahkan hatinya seperti disirami kebahagiaan. Mungkin masih terfikir sosok lelaki berpeci putih tadi. Di sisi lain, ia baru saja mendengar lantunan adzan dari seorang santri yang ia kagumi sejak santri itu berada di Masjid dekat rumahnya. Tapi sayangnya, ia belum tahu siapa nama santri itu. Bahkan wajahnya pun belum pernah dilihatnya, ia hanya menyebut santri itu dengan sebutan “mas adzan” (hohoho. Aneh-aneh saja ^^). Lama sudah ia ingin mengenal sosok santri yang bersuara khas itu, tapi terlalu lama. Ya, namun ia tetap teguh menantinya.
            Terhanyut dalam lamunan yang entah kemana arahnya. Ia pun terfikir dengan santri berpeci putih tadi sore. Ia juga merasa sudah mengenalnya, apalagi logatnya bicara tadi hampir mirip dengan suara santri yang biasa melantunkan Al-Qur’an serta adzan itu.
“assalamu’alaikum,” tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan mengucap salam.
Saat itu pula Naza meninggalkan lamunannya. Di rumah tak ada siapa-siapa jadi ia yang harus membukakan pintu.
“wa’alaikumsalam,” Naza terkejut, ternyata sosok lelaki berpeci putih itu yang datang ke rumahnya.
“ech lho?? Cari siapa ya mas?”
“bapaknya ada mbak?”
“maaf bapak baru tindak ke rumah saudara, ada apa ya,?”
“oalach, kira-kira pulang jam berapa?”
“nanti jam 9’an mungkin,”
“ya sudah besok tak kesini lagi”
“iya, ada pesan yang mau disampaikan nggak mas,?”
“nggak, nggeh mpun wassalamu’alaikum” berpamitan dan lelaki itu langsung beranjak pergi.
“wa’alaikumsalam”
Naza langsung menutup pintu kembali. Penuh senyum kebahagiaan, senyuman tak henti-henti dari parasnya. Tapi ia juga heran kenapa lelaki itu datang kerumah, cari bapak pula. Ya, fikirannya juga penuh pertanyaan tentang sosok lelaki berpeci putih.
            Sebenarnya lelaki itu sudah tahu siapa Naza dan siapa Naza.Tapi dia mencoba menutupinya, dan Karena dia juga ingin kenal Naza lebih dekat lagi.
***
            Fajar memecah langit, menyeruak di antara awan-awan yang merengkuh malam. Angin yang luar biasa sejuk berhembus. Membangunkan pohon-pohon yang terlihat kecil di pundak gunung seakan angin berkata “Selamat pagi, mari kita hidupkan dunia ini”. Di atas sajadah biru, Naza melantunkan bacaan-bacaan Al Qur’an dengan suara lirih. Namun Nampak keras dalam kesunyian fajar.
            Mentari terbit, mengintip dari ujung timur, sinar lembutnya membelai lembah dan merasuk jendela-jendela rumah. Pepohonan yang dibangunkan angin mengenghembuskan kabut yang berlari menjauhi sang mentari.
            Hari jum’at, semua anggota keluarga Naza kumpul di rumah. Karena hari ini, hari libur dari semua kegiatan, tapi tidak untuk kegiatan di rumah. Setelah sarapan bersama, Naza mulai membuka pembicaraan.
“Pak, tadi malam ada yang cari bapak kok” ucapnya sambil meneguk air putih.
“Siapa nduk?, ada pesan ndak?”
“Nggak tau, kayaknya santri kok. Nggak pernah lihat eg pak”
“Oalah, pasti itu Farhan”
“Lho, bapak kenal dia?”
“Lha iya to, kemarin dia bilang. Mau ada perlu sama bapak, tapi belum ada waktu. Mungkin  baru ada waktu tadi malam, malah bapak ganti bapak yang nggak bisa
“Dia santri mana to pak?”
“Itu to, PPTQnya mbah kyai Fahrobi”
“Emm.. Di PPTQ Ar Rohman itu ya pak?” (Kaget, kagum, bahagia entah apa saja yang Naza rasakan)
“Ya sudah bapak mau ke pekarangan belakang dulu”
            Seraya bapak beranjak pergi, Naza berfikir. –kok kenal ya?, kenapa aku baru tau? –
Tak lama kemudian, Naza pun juga beranjak dari tempat duduk tadi. Namun saat melangkah untuk ketiga, lelaki berpeci putih itu tampak di depan pinti.
“Assalamu’alaikum”
“Eh, Wa’alaikumsalam. Cari bapak ya?”
“Iya”
“Ya sudah, monggo pinarak dulu”
            Naza pun menuju pekarangan belakang rumah. Dan setelah bapaknya menuju ruang tamu ia tak ikut, ia juga tak mau muncul di sana.Tapi tak sengaja ia banyak mendengar obrolan mereka di balik pintu ruang tengah. Dan ternyata Farhan itu sosok insan yang sering melantunkan Al Qur’an dan Adzan di Masjid At Taqwa. Pantas saja ia seperti sudah mengenal Naza. Semenjak itu, Naza mulai menyelidi dan cari tau tentang sosok santri itu.
.....
            Senja kini ditemani gerimis. Awan yang mulanya senyum kini tampak murung dan tak ingin menebarkan senyumnya. Kala itu Naza baru pulang dari rumah Rani yang ada di jantung  kota indah ini. Gerimis pun mulai berlarian dengan cepatnya, awan semakin murung pada  gerimis dan petir agaknya semakn memeluk kota ini. Tiba-tiba handphonenya memanggil, ternyata ada sms masuk
  Dlm khampaan, slalu hnggap d anganQ akn wjahmu,. Sjak Q sring mlihat kau d dpan rumah,.. 5af jka aQ lncang n mngkin kau blum tau cp aQ,.. Q hnya ingin mngungkpkan sbuah rasaQ saja.. #F
            Serentak ia terkejut akan isi sms itu. Pikiran Naza pun bertanya-tanya.
“Dari siapa sms itu?” seketika bola matanya tertuju pada huruf berinisial ‘F’.
Tanpa berfikir panjang Naza membalas sms dari orang yang berinisial ‘F’.
            Afwan, ini cp y,?. Ap anda slah krim,?
Seketika ada balasan dari nomor yang sama
            Maaf jka aku lncang padamu.. tp hati ini tk mampu me2ndam rindu.. aku Farhan
            Melihat kata Farhan ia sangat terkejut dan bertanya-tanya pada hatinya, “Apa ini mimpi?”
            Dalam hati Naza, ia memang memendam rasa yang begitu dalam pada Farhan. Berawal dari tabrakan ringan itu dan lantunan Al-Qur’an nya, tumbuhlah benih-beni cinta diantara keduanya. Naza pun tak menghiraukan sms Farhan. Karena ia berfikir terlalu cepat cinta itu terucap dalam bibir Farhan.
......
            Sinar mentari pagi pun datang menghamiri kabut yang begitu indah pagi ini. Handphone Naza seketika bernyanyi merdu. Naza pun meraihnya dan mengangkat telefon itu.
“assalamu’alaikum” ucap Naza
“wa’alaikumsalam” jawab suara sesosok lelaki yang ternyata adalah Farhan.
“Naza, maaf jika aku terlalu lancang padamu. Ku harap kau tak sedikitpun membenciku. Hanya dirimu yang mampu mengisi kekosongan hatiku. Pancaran seyummu begitu indah mewarnai kehidupanku. Dalam gumpalan darah aku memendam rasa yang begitu indah. Rasa makhabbah (cinta) ku padamu. Aku sangat berharap cintaku padamu kan terbalas dengan cinta yang aku persembahkan untukmu.” Jalas Farhan dengan nada puitisnya.
“apakah secepat itu sampeyan ungkapkan itu padaku mas?” tanya Naza..
“aku tak mau kehilangan dirimu, hatiku hanya ada 1 nama yaitu namamu dek. Aku juga sebenarnya aku sudah mengenal jauh tentang sampeyan, termasuk dari bapakmu dek. Mungkin sampeyan nggak tau.. maaf ya.. gimana perasaanmu padaku?”
“cinta yang sampean berikan untukku begitu murni dan indah. Dalam rangkaian kata-kataku tak mampu mendefinisikan kata ‘cinta’ mas. ‘cintaku juga padamu’. Aku juga sebenarnya sudah mengenal sampeyan lumayan jauh mas, mungkin sampeyan juga nggak tau tha? Namun sampeyan harus tau bahwa aku masih ingin mengejar mimpi-mimpi indah yang belum berhasil  aku rangkul. Aku berharap sampeyan selalu menyemangatiku, namun dalam kamus kehidupanku hanya ada kata ta’aruf” jelas Naza panjang lebar.
            Seketika Farhan berkata pada Naza “Aku akan setia padamu dek”
            Kecelakaan ringan di sudut jalan melati yang sepi itu memberikan arti yang begitu fenomenal di hati Naza. Senja itu. Disaat banyak orang tak mengerti arti senja sesungguhnya, tapi Naza mampu mengerti akan arti senja itu. Karena senja itulah sangat berjasa atas pertemuan antara Naza dan Farhan. Dulu menjadi senja yang tak terduga. Namun kini kerlingan sinar senja yang jelita memeluk Naza. Yaitu sinar bintang senja dalam semburat cinta.

Tamat

Minggu, 03 November 2013

Cerpen :Kuncup Cinta dalam Pesantren Impian

“Riri, apakah kamu mau berbuka puasa bersama dengan para santri di pesantren?, “pertanyaan Bu Nur Nira membelah kesunyian ruang tamu mungil di senja itu. Udara seakan berhenti bergerak dan waktu berhenti berdentang. Riri sangat terkejut mendengar pertanyaan guru mengajinya itu. Ia memandang Bu Nur Nira lekat-lekat.
“Apakah ia sedang bercanda? Tapi sepertinya ia tidak main-main,” gumam Riri dalam hati. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Riri sebelumnya untuk berbuka puasa bersama di pesantren. Pesantren. Mendengar kata yang satu itu, seketika kenangan Riri menyeruak, kembali ke lembaran kehidupannya beberapa tahun yang lalu. Episode impian masa remajanya yang terlupakan.
“Aku ingin masuk pesantren, Ibu,” kata-kata Riri sangat mengejutkan ibunya, belum lama berselang sejak Riri memasuki gerbang cahaya Sang Maha Cinta. Ibu Riri menatap putrinya yang telah menginjak remaja itu dengan penuh tanda tanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Riri. Sebagai ibu yang baik, ia berusaha keras memahami dan menerima perubahan-perubahan dalam diri Riri walau sebenarnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung terjawab di dalam benaknya.
Riri memandang Ibu yang terdiam seribu basa. Ia tahu, Ibu sangat mencintai dan menyayanginya. Jarang sekali permintaannya ditolak dan rasa-rasanya kali inipun tidak jauh berbeda.
“Mengapa harus ke pesantren, Ri?” tanya Ibu sambil menghela nafas panjang. “Kamu tahu kan, kamu anak perempuan Ibu satu-satunya. Kalau kamu pergi, lantas siapa yang akan menemani Ibu? Apakah tidak bisa belajar agama Islam di sini saja?”
“Tapi aku ingin belajar di pesantren, Bu. Aku bisa belajar lebih mendalam dan  konsentrasi di sana. Lagipula biayanya tidak mahal kok, Bu,” sanggah Riri.
“Bukan masalah biaya, Nak. Tapi Ibu tidak mau kehilanganmu,” mata ibunya mulai berkaca-kaca. Perlahan-lahan kristal-kristal bening mengaliri pipi tuanya. Sejak ia merestui Riri untuk berikrar syahadat, ia menyadari bahwa Riri bukanlah lagi putri kecil kesayangannya yang sama seperti yang dulu. Riri yang selalu duduk manis dan menuruti semua kata-kata dan perintahnya. Riri yang sering berceloteh riang dan bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan pulang dari rumah ibadah agama lamanya ke rumah. Betapa masa-masa itu telah lewat dan jarum jam dinding bergulir begitu cepat menancapkan kuku-kukunya di atas tumpukan kenangan.
“Kehilangan aku? Apa sih maksud Ibu? Aku gak ngerti. Lagipula Ibu sendiri yang bilang padaku kalau aku harus belajar dan beribadah dengan baik karena aku sendiri yang telah memilih jalan ini. Dan Ibu kan gak bisa mengajariku. Ibu bukan muslim,” Riri memandang ibunya dengan bingung.
Ibu Riri tidak dapat menahan lagi segala rasa yang menyesak di dada. “Pokoknya Riri tidak boleh masuk pesantren. Ibu sudah merestui Riri menjadi muslim dan Ibu memang mendukung Riri untuk belajar agama Islam dengan baik. Tapi bukan di pesantren. Riri tetap di sini. Tinggal sama Ibu,” itulah keputusan ibu Riri. Melepaskan semua harapan dan impian Riri untuk masuk pesantren. Malam menjadi abu-abu, melepaskan kerudung hitamnya untuk dipinjamkan pada hati Riri dan ibunya yang terbelah.
Roda kehidupan terus berjalan. Riri beranjak dewasa dan menyelesaikan pendidikannya di kota itu; ia tetap tinggal bersama Ibu. Ibu meninggal dunia ketika Riri baru saja menyelesaikan kuliahnya. Hari-hari yang berair, melarutkan semua kenangan Riri tentang Ibu. Hingga di akhir hidupnya, Ibu tetap tidak sejalan dengan Riri.
“Walau ibu Riri bukan muslim, tetapi Riri harus tetap mendoakannya semoga Allah mengampuni dosa-dosanya,” begitu saran Bu Nur Nira setiap kali Riri menceritakan gundah hatinya.
“Kalau Riri mau berbuka puasa bersama di pesantren, nanti saya akan telepon Pak Kyai untuk memberitahukan maksud kedatangan kita. Apakah Riri juga mau menyediakan makanan untuk berbuka?” kata-kata Bu Nur Nira membawa Riri kembali dari lorong waktu yang sedetik lalu menyelimutinya.
“Di… Di pesantren, Bu? Pesantren mana?” tanya Riri gugup. “Aku belum pernah ke pesantren…” Jantung Riri seakan berhenti berdenyut. Impian masa remajanya berkibar-kibar kembali di hadapannya.
“Sebuah pesantren di pelosok Tangerang. Ibu baru satu kali ke sana. Santrinya ada sekitar tiga puluh orang yang mondok di sana. Semuanya ikhwan. Di sebelahnya  ada pondok anak yatim. Masih satu kompleks dengan pesantren itu. Jadi Riri jangan kaget kalau tiba di sana. Suasananya ndeso banget,” kata Bu Nur Nira sambil tersenyum.
Riri menatap guru mengajinya. Pesantren. Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di pesantren.
“Oh begitu… Baiklah Bu. Kalau aku mau membawa makanan untuk berbuka, kira-kira aku beli di mana ya, Bu? Aku nggak tahu tempatnya. Untuk tiga puluh orang ya?” tanya Riri.
“Hmmm… Lebih baik sediakan makanan untuk empat puluh orang saja, Ri. Hari sabtu sore kita berbuka puasa dengan para santri, lalu esoknya kita berbuka puasa dengan anak-anak yatim. Riri sediakan makanan untuk para santri saja. Untuk acara berbuka dengan anak-anak yatim, sudah ada yang menyediakan makanan. Ibu-ibu majelis taklim di dekat sana sudah menyanggupi untuk menyediakan makanan,” jawab Bu Nur Nira.
Riri mulai menghitung-hitung dalam hati berapa jumlah uang yang harus disiapkannya untuk membeli makanan. “Harga nasi kotak sekitar tujuh ribu rupiah per kotak. Kalau empat puluh orang berarti dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Tapi bagaimana kalau harga nasi kotaknya lebih dari itu? Coba kuhitung anggaran dana untuk ini: aku masih punya uang tiga ratus ribu rupiah sisa penghasilanku bulan lalu. Mudah-mudahan tiga ratus ribu cukup buat membeli makanan empat puluh orang,” benak Riri mulai berputar-putar memperhitungkan semuanya.
“Ri, nanti kita beli makanannya di Tangerang saja. Nggak usah bawa dari rumah, karena letak pesantren itu sekitar satu setengah jam dari Tangerang. Repot kalau harus bawa dari rumah. Kita kan naik bis umum,” kata Bu Nur Nira seraya beranjak dari kursi. “Ibu pulang dulu. Insya Allah hari Sabtu kita berangkat setelah shalat dzuhur, jadi kita bisa tiba di pesantren tepat waktunya berbuka.”
Riri mengangguk pelan. Pikirannya masih menghitung anggaran dana. “Wah, mesti beli makanan di Tangerang. Gimana kalau harganya lebih mahal?” bisik hati   Riri gelisah.
Malam itu Riri tidur dengan pikiran berkecamuk. Di satu sisi mimpinya untuk ke pesantren tiba-tiba menjadi kenyataan, tapi di sisi lain ia khawatir mengecewakan Pak Kyai dan para santri di sana bila ternyata uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membeli makanan. “Ah aku yakin Allah pasti memberi jalan. Yang penting aku ingin silaturahim dengan saudara-saudaraku di sana. Entah bagaimana nantinya, aku   jalani saja. Ibu, akhirnya keinginanku kesampaian juga,” itulah doa yang dibisikkan Riri sebelum rasa kantuk merenggutnya dari kesadaran.
******************
Sabtu siang, Riri sudah menunggu Bu Nur Nira dengan manis. Sekali-sekali ia membetulkan kerudung biru muda yang dikenakannya. Tak lama kemudian Bu Nur Nira datang dan mereka segera berangkat menuju Tangerang. Riri sangat tegang. Setibanya di Tangerang, mereka mulai mencari-cari kedai makanan. Sayup-sayup adzan berkumandang di kejauhan. “Ashar di bumi Tangerang,” pikir Riri dengan
bersemangat. Setelah shalat Ashar, mereka masih mencari-cari kedai makanan untuk membeli makanan berbuka. Sudah setengah jam berputar-putar, tetapi mereka belum menemukan kedai makanan yang buka. Riri sudah separuh putus asa.
“Ayo… Jangan nyerah gitu dong, Ri. Insya Allah masih ada kedai makanan yang buka,” hibur Bu Nur Nira ketika ia melihat wajah Riri yang kebingungan.
Benar saja. Tak lama kemudian mereka menemukan sebuah kedai makanan sederhana. “Berapa harga satu bungkus nasi, Bu?” tanya Riri pada ibu pemilik kedai.
“Nasi pakai telur dan sayur atau nasi pakai ayam goreng dan sayur harganya enam ribu, Neng. Neng mau pesan berapa bungkus?” tanya ibu pemilik kedai ramah.
Riri menghitung dengan cepat. “Aku pesan empat puluh bungkus nasi, Ibu. Boleh pakai telur atau ayam,” katanya. “Alhamdulillah, ternyata lebih murah. Berarti masih ada sisa enam puluh ribu. Aku bisa beli kue.” Dengan riang, Riri membeli kue bolu dan buah-buahan seharga empat puluh delapan ribu rupiah. Total belanja Riri sore itu dua ratus delapan puluh delapan ribu rupiah. Riri membayar semua belanjaannya tanpa diketahui Bu Nur Nira.
Bu Nur Nira masih sibuk berbicara dengan pemilik kedai. Ternyata pemilik kedai bersedia mengantar mereka ke pesantren tersebut. “Ini sudah hampir maghrib, kalian harus tiba di sana tepat waktu, kalau tidak nanti mereka sudah berbuka puasa duluan. Biar saya yang antar saja. Nanti Bu Nur Nira memberitahu arah jalannya ya.   Saya kurang paham daerah situ,” kata suami ibu  pemilik kedai dengan ramah.
Beberapa menit setelah maghrib, mereka tiba di pesantren tersebut, Riri terbengong-bengong ketika memasuki kompleks pesantren itu. Bangunannya yang sederhana, hanya terbuat dari bilik-bilik kayu. Ada sebuah masjid kecil di depan kompleks dan sebuah rumah batu bata yang didiami oleh Pak Kyai beserta keluarganya.
“Ini toh yang namanya pesantren. Akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di sini. Suasana yang tenang, pas banget untuk berdzikir dan shalat malam. Oh Ibu, seandainya Ibu berada di sini sekarang,” dengan penuh haru yang memenuhi dadanya Riri melangkah memasuki pesantren itu. Di dalam rumah Pak Kyai sudah berkumpul seluruh santri, siap untuk bersantap bersama. Riri larut dalam suasana kekeluargaan. Seluruh penghuni pondok pesantren beserta keluarga Pak Kyai berbuka puasa bersama dengan makanan sederhana yang dibawa Riri. Bu Nur Nira dapat melihat wajah Riri yang bercahaya, penuh kegembiraan malam itu.
“Mbak Riri baru pertama kali ya ke pesantren?” tanya Pak Kyai ramah.
“Iya, Pak,” jawab Riri dengan sumringah. “Di sini enak ya suasananya. Tenang, adem, sunyi, sepi, rasanya aku gak mau pulang ke Jakarta deh, Pak. Aku ingin tinggal di sini.” Riri menghirup nafas dalam-dalam sehingga udara segar memenuhi rongga dadanya yang bahagia. Tapi rasanya gak bisa. Ya sudah aku nikmati saja saat-saat menyenangkan di pesantren ini sekarang. Bulanpun tersenyum pada Riri malam itu.
Keesokan harinya, Riri dan Bu Nur Nira sibuk membantu ibu-ibu majelis taklim menyiapkan acara berbuka puasa bersama anak-anak yatim. “Mbak Riri, nanti Mbak bicara sedikit ya di depan jamaah. Cerita tentang asal mulanya Mbak Riri tertarik pada agama Islam dan kemudian memeluknya,” ujar seorang ibu.
“Cerita? Boleh aja. Aku senang sekali berbincang-bincang dengan teman-teman,” jawab Riri dengan semangat.
Acara berbuka puasa bersamapun berjalan lancar. Dunia Riri turut merekah seiring dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Dengan bersemangat Riri menceritakan asal mulanya ia tertarik memeluk agama Islam. Hati-hati mereka yang hadir, termasuk Pak Kyai dan para santri yang turut ambil bagian acara tersebut, bagai diselubungi cahaya putih kedamaian. Di bawah tatapan Sang Maha Cinta, Riri berbicara dengan semangat.
Jam telah menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika acara itu usai. Shalat tarawih akan segera dimulai. Dengan berat hati, Riri dan Bu Nur Nira harus segera pulang ke Jakarta. Bis terakhir cuma ada sampai jam delapan. Sebelum pulang, seorang ibu dari majelis taklim menghampir Riri.
“Mbak Riri, ini ada sedikit sumbangan dari ibu-ibu di sini. Jumlahnya mungkin tidak banyak. Tetapi insya Allah kami semua ikhlas. Ini untuk Mbak Riri, semoga Mbak Riri tetap istiqomah di jalan-Nya. Kami semua terharu mendengar cerita Mbak Riri tadi,” ibu itu menyelipkan setangkup amplop putih ke dalam tangan Riri.
Riri terkejut sekali. “Apa ini, Bu? Saya… Saya…” Riri tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.
“Ambillah, Mbak. Sebagai tanda cinta dari kami dan teriring doa kami semoga Mbak istiqomah,” jawab ibu itu sembari memeluk Riri.
Riri pulang ke Jakarta dengan termenung-menung. Hujan deras membasahi bumi Tangerang. Bu Nur Nira juga tidak banyak bicara selama perjalanan pulang.
“Bu, tadi aku dikasih amplop ini sama ibu-ibu majelis taklim,” kata Riri pelan. Bu Nur Nira tersenyum hangat. “Alhamdulillah. Ambillah Ri. Syukuri semua nikmat yang Allah berikan.”
Riri membuka amplop putih itu. Ada lembaran-lembaran uang lima puluh ribuan, sepuluh ribuan dan seribuan. Dengan hati-hati Riri menghitungnya. Dua ratus delapan puluh delapan ribu rupiah. Jantung Riri seakan berhenti berdetak. Jumlahnya tepat dua ratus delapan puluh delapan ribu rupiah. Langitpun luruh bersama cahaya cinta dari pesantren impian.
****** Selesai ******

Kamis, 29 November 2012

SERPIHAN RASA

Serpihan Rasa

Ku coba hapus serpihan Rasa
Dalam Gelora Asmara yang menyiksa
Kepadamu yang pernah ku cinta
Semoga tiada lagi beban di Jiwa

Tak ingin lagi mengemis cintamu
Karena tertutup oleh netramu
Tuk menyulam rasa di palung jiwamu

Biarlah cinta menjadi anugrah terindah
Nan tiada mampu untuk ku pendam
Ku biarkan rasa bergejolak di hati

Walau asa menorehkan sebuah cinta
Namun ku tak mampu menggapai indahnya cinta
Tiada lagi rinai gerimis menyapa rindu
Di Peraduan cinta tak lagi terpadu

Impian indahku kini ternoda
Cinta yang ku rajut hadirkan duka
Kasih yang ku damba pandai berdusta
Menyulam rasa hanya di bibir saja
Karna hatimu kini telah mendua


Kamis, 27 September 2012

Dalam Sepi

Dalam Sepi

Malam menepi pada pagi
Rembulan memangut terdian diri
Aku resah, Aku gelisah
Tak dapat meraih mimpi

Kala Sang Suci memanggil hati
Kian rintih tegup menanti
Embun murni dalan sepi
Serpihan kata memecah risau dalam diri

Aku beranjak dari lamunan
Walau seribu bayang memenuhi angan
Mencoba memejam di Hening Malam
Meraih Bintang dalam kedamaian

by : Bintang Senja

Sebatas Angan

Sebatas Angan

Hanya sebatas mimpi
Berlalu saat tiba pagi
Menghias lelap jiwa sepi
Hilang saat terjaga dalam hati

Hanya Sebatas mimpi
Bak birunya awan
Hanya indah dalam pandangan
Tak mampu ku raih dalam genggaman

Rindu hanya sebatas khayalan
Tak mampu ku lepaskan
Bermain di Tama IMpian
Terhanyut di Lautan Kegelisahan

Senyummu hanya dalam ingatan
Cintamu hanya batas bayangan
Tak kant menjadi kenyataan
Semua semu tak bisa diharapkan


Viantai Aku dari Jauh

Viantai Aku dari Jauh


Bila kau cinta padaku
Cintailah di dalam hatimu
Hingga tiba kita bertemu
Dalam ikatan suci tuk bertemu

Bila rindu kau rasakan
Rindukan di kejauhan
Walau sepi akan dirasakan
Hingga Tuhan ridlo sumpah suci diikrarkan

Sayangi aku
Walau Hanya Tuhan yang tau
Agar kita tak terjerumus oleh nafsu
Sampai ku jadi Bidadarimu

 


Satukan Cinta

SATUKAN CINTA


Dalam sujud malam ku meminta
Ku selipkan nama_mu dalam do'a
Satukan kami dalam cinta
Itulah harapan kami untuk bersama

Hilangkan gundah dlam dada
Tanamkan kepercayaan dalam jiwa
Agar terasa indah pada waktunya
Saat takdir mempertemukan kita

Kesabaran hati tlah diuji
Dapatkah kita melewati
Dan mampu menyatukan cinta dalam hati
Jangan pernah saling menyakiti
Jika Cinta harus pergi