Sabtu, 03 Juni 2017

Senja

Senja terlalu buru-buru berlalu,
padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu
dengan warna-warna rinduku yang selalu biru..
Ingin kulintasi peradaban senja bersamamu,
dengan kecepatan rindu yang melesat diluar nalar waktu,
yang bergerak diluar jalur jantung dan nadiku..
Kusimpan sendiri mega rinduku dalam langit jiwaku,
yang akan kau kutip setiap senja sepenggal demi sepenggal
sebelum tenggelam ke kaki ajal..
Impian yang menjadi nyata itu ada disetiap senyuman dan binar yang kau tinggalkan di bola mata mereka.. (siapa?)
Bukan pada masa depan, yang dirimu sendiripun masih butuh tangan takdir untuk meraihnya..
Lukislah pelangi itu sebelum kanvas usia mereka habis dilukis senja..
Senja hanya salah satu cara waktu agar matahari rindu itu bisa terus terbit,
menembus malam, tempat semayam mimpi2 kita yang selalu padu..
Tetap tak jua kumengerti
senja kecil yang sederhana
begitu damai ia jatuh di hati kita..
Ada yang tak tenggelam ketika senja, Rasa.. 😅

Senin, 08 Mei 2017

Kali ini cemburu yang menang..
Bisa apa aku?
Tak bisa membuatmu yakin.
Tetap tak bisa.

Ah cukup.
Entahlah..

08 Mei 2017
16:57 WIB

Minggu, 07 Mei 2017

Tentang semua ini

Cukup sepiku yang berucap,
Aku tak perlu lagi mengungkap..
Ada rasa yang mengendap pada ampas kopi,
yang tak pernah kita teguk.
Ada rindu yang tak terungkap,
dan yang tak pernah menemui titik temunya..

Bukannya tak mau, apalagi ragu.
Hanya saja ada sedikit rasa malu,
 yang sering kusebut dengan rasa takut.
Takut lebih menyayangimu,
takut lebih tak bisa jauh darimu,
takut menerima kenyataan yang tak pernah ku inginkan,
takut tentang bagaimana aku menemui titik temu pada rinduku..

Itulah aku yang tak hentinya menyelipkan namamu dalam do'a-do'aku..
Itulah aku yang menunggu titik temu kerinduanku.
Itulah aku yang tak berani mendekat dan tak juga berani menjauh..
Iulah aku yang hanya mampu melihatmu dari kesederhanaan pandanganku..
Itulah aku yang selalu menginginkan kemungkinan menjadi kenyataan
atau setidaknya kebetulan yang berkepanjangan..

Semua ini, hasil terjemahan dari celoteh tanpa suara,
yang berujung pada catatan tanpa tinta..
___________
21:03 WIB
07 Mei 2017

Senin, 24 April 2017

24042017

Hari ini, untukmu yang bertambah bilangan usianya.
Sang Tuan Vespa warna Senja..
Yang menemani di hari bertambahnya usiaku.
Yang memperkenalkanku sebuah kota besar berpangkat Kota Kencana.
Sebuah kota yang sama sekali belum pernah kupijaki.
Dan bersamamu, perdana ku berpijak di puncak tertinggi Kota Kencana itu.
Kota yang katamu penuh kenangan, penuh wisata.
Kota yang pernah membahagiakanku sehari penuh bersamamu.
Dengan berbagai lokasi dan ceritanya yang kini tak pernah kulupa.
Benar-benar tak terlupakan .. 1807

Namun, kini apa yang bisa kuperbuat untukmu?
_________
24-04-2017
22:00 WIB


Kamis, 13 April 2017

Cinta Yang Agung


Cinta yang Agung

Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya.
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu.

Apabila cinta tidak berhasil
Bebaskan dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi.
Ingatlah,bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.

Tapi, ketika cinta itu mati..
kamu tidak perlu mati bersamanya

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh..

*Kahlil Gibran

Inginku

Kurasa,
Ada sesuatu yang hampa
saat langit langit semakin menua
ada sesuatu yang berbeda
saat hujan hujan tertahan diantara mega
Sendiri dan sepi, aku ingin berlari
menelusuri mimpi yang tak kunjung menepi
atau haruskah aku hanya berdiri disini
mengeja bait pelangi yang hampir mati
Di penghujung hari...
Ketika senja berlalu dan pergi
Ketika hati ini terhenti bernyanyi
Aku ingin bersama sunyi
 
Sunyi, tanpa cerita
Tapi..  Sulit ku mengartikan rasa ini..
Padahal terlihat jelas dimataku.
Pikiranku berkata "ya "
dan hatiku berkata "tidak"
 
Tak apa jika senja berganti malam
Tak lama setelah itu
Sinar rembulan pun datang menghampiri
Namun sang bintang enggan menemani
Aku baik-baik saja
Ku hanya ingin sendiri
Hanya ingin habiskan rasa ini
Hanya ingin lukiskan senyummu dalam sepi
Tak apa jika ku menangis saat ini
Jika rinduku amat dalam dan perih
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku
Ku hanya ingin kau mengerti
Ini yang ku rasa dan takkan ku ingkari
Ku hanya ingin sendiri
Diam,mengunci bibirku dan sendiri
Tak apa jika ku menangis saat ini
Untukmu yang kusayangi
Untuk kita,kau,aku dan kini
Untuk sebuah alasan yang tak pernah ku pahami
Jadi biarkan ku sendiri malam ini
Tak apa jika ku menangis karena ku masih punya hati
Tuk merasa,tuk meminta,tuk memberi
Tuk berharap dan untuk mencintai dirimu..
 
11-04-2017

Kamis, 06 April 2017

Aku, hujan dan senja

Senjaku dengan Mega kelam berarak kelabu
Dalam untaian hujan meluruhkan butiran sendu
Mungkin hanya rindu
Yang mampu memperlambat waktu

Dan tanpa kuasa,
Hari ini terbantahkan dalam laga
Membentuk sejumput makna dalam rasa
Hingga batin menghamba tak berdaya

Diantara hujan dan senja
Yang kian deras dan meramba
Yang menebarkan aroma tanah menggoda
Yang membiarkan mengalirnya aksara dengan kata

Hujan senja, termenung dalam rintik tak mereda
Menjemput asa dalam hujan temaram senja
Senja yang menghentak dan tak pernah alpa membahagiakan jiwa
Senja yang menyimpan banyak cerita tak tersampaikan dalam gurat warna membelah cahayanya

Diam Mentari meredup pendarnya
Biarkan senja memerah jingga
Kucintai kau seperti senja
Dengan keindahannya tanpa durasinya